Hikmah di Balik Kehilangan: Perspektif Islam tentang Ujian dan Nikmat
Kehilangan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Entah itu kehilangan harta benda, kesehatan, atau hal-hal berharga lainnya, setiap orang pasti pernah merasakannya. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa di balik kehilangan yang terasa menyakitkan itu, tersimpan hikmah dan kebaikan yang luar biasa? Dalam pandangan Islam, kehilangan bukanlah sekadar musibah, melainkan ujian sekaligus rahmat yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya.
Realitas Manusia: Lupa di Kala Senang, Ingat di Kala Susah
Al-Quran dengan tegas menggambarkan sifat dasar manusia yang cenderung lupa kepada Allah ketika sedang dalam keadaan berkecukupan. Allah SWT berfirman dalam Surah Fussilat ayat 51 yang artinya kurang lebih menyebutkan bahwa manusia apabila diberi rahmat dan karunia, mereka asyik dengan nikmat tersebut dan terlalu bahagia sehingga lupa kepada Sang Pemberi nikmat.
Ayat ini mengungkapkan sebuah realitas pahit tentang kebanyakan manusia. Ketika diberi kekayaan dan kemudahan, mereka menganggap itu sebagai kehormatan dan kebolehan diri sendiri. Mereka lupa bahwa semua itu adalah titipan dan ujian dari Allah. Sebaliknya, ketika diberi ujian berupa kekurangan atau kehilangan, mereka merasa Allah tidak adil atau bahkan merasa dihinakan.
Padahal, baik kekayaan maupun kemiskinan, keduanya adalah ujian. Yang membedakan hanyalah bagaimana manusia menyikapinya. Orang yang kaya diuji: apakah dia bersyukur, berbagi, dan tetap rendah hati? Orang yang kehilangan diuji: apakah dia bersabar, tetap husnudzon kepada Allah, dan mengambil hikmah?
Mengapa Orang yang Tidak Pernah Kehilangan Cenderung Tidak Baik?
Pernyataan ini mungkin terdengar kontroversial, namun jika kita renungkan lebih dalam dengan melihat realitas dan dalil-dalil Al-Quran, pernyataan ini memiliki dasar yang kuat. Bukan berarti Allah tidak menyayangi orang yang tidak pernah mengalami musibah, tetapi justru ujian dengan kenikmatan yang terus-menerus adalah ujian yang lebih berat dan berbahaya.
Bahaya Kenikmatan Tanpa Ujian
Orang yang tidak pernah mengalami kehilangan atau musibah berisiko mengalami beberapa hal berikut:
- Jarang berdoa dengan tulus dan ikhlas. Ketika semua kebutuhan terpenuhi, manusia cenderung merasa tidak membutuhkan Allah. Doa menjadi ritual tanpa penghayatan, atau bahkan ditinggalkan sama sekali.
- Hati menjadi keras dan lupa pada Allah. Kenyamanan materi membuat hati menjadi terikat dengan dunia dan lupa bahwa semua bisa hilang sewaktu-waktu.
- Sombong dan merasa aman sendiri. Mereka merasa aman karena harta dan kedudukan, padahal keamanan sejati hanya datang dari Allah.
- Tidak merasakan ketergantungan total pada Allah. Ini adalah inti dari keimanan - merasa lemah dan butuh kepada Allah dalam setiap kondisi.
- Pelit dan tidak mau berbagi. Tanpa merasakan kesusahan, empati terhadap orang yang kekurangan menjadi berkurang.
Imam Al-Ghazali pernah mengatakan bahwa ujian dengan nikmat lebih berbahaya daripada ujian dengan musibah, karena musibah membuat seseorang otomatis ingat dan kembali kepada Allah, sementara nikmat membuat seseorang harus berjuang melawan nafsunya sendiri untuk tetap ingat kepada Allah.
Kehilangan: Jalan Menuju Kedekatan dengan Allah
Sebaliknya, kehilangan atau musibah yang disikapi dengan benar justru membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Ini bukan berarti kita harus menginginkan musibah, tetapi ketika musibah datang, kita harus mampu melihat hikmah di baliknya.
Doa Orang yang Terkena Musibah Lebih Mustajab
Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahwa Allah sangat dekat dengan orang yang sedang dalam kesulitan. Istilah "mudhthar" merujuk pada orang yang sangat terdesak, tidak memiliki jalan keluar kecuali kepada Allah, dan benar-benar pasrah total. Dalam kondisi seperti ini, doa yang dipanjatkan sangat mustajab karena hati benar-benar ikhlas, tidak ada riya, tidak ada kesombongan, dan tidak ada ketergantungan pada selain Allah.
Inilah mengapa banyak orang bersaksi bahwa doa mereka yang paling cepat dikabulkan adalah ketika mereka sedang dalam kesulitan dan kesusahan. Bukan karena Allah lebih sayang saat itu, tetapi karena hati mereka pada saat itulah yang benar-benar ikhlas dan pasrah.
Kehilangan Menghapus Dosa
Rasulullah SAW bersabda bahwa ujian yang menimpa seorang mukmin, sekecil apapun itu bahkan seperti tertusuk duri, adalah penghapus dosa baginya. Kehilangan harta benda, kesehatan, atau hal lainnya, jika disikapi dengan sabar, akan menghapuskan dosa-dosa dan meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah.
Bayangkan, kehilangan yang mungkin hanya senilai ribuan atau jutaan rupiah, bisa menghapuskan dosa-dosa yang mungkin akibatnya jauh lebih besar di akhirat. Bukankah ini untung yang sangat besar?
Melatih Kesabaran dan Tawakal
Kesabaran adalah akhlak mulia yang tidak bisa dipelajari hanya dari teori. Seseorang baru benar-benar sabar ketika dia diuji. Kehilangan adalah salah satu sarana Allah untuk melatih hamba-Nya agar memiliki kesabaran dan tawakal yang sejati.
Kisah Nyata: Cabai Hilang, Rezeki Berlipat
Ada sebuah kisah nyata yang sangat inspiratif. Seorang istri kehilangan tanaman cabainya yang dipetik habis oleh pencuri. Awalnya dia merasa jengkel dan kecewa. Namun, suaminya menasihatinya dengan penuh kelembutan: "Tidak mengapa kehilangan sedikit, minta saja ganti kepada Allah. Siapa tahu Allah kasih nikmat yang tidak terduga."
Sang istri pun mengikhlaskan kehilangannya dan berdoa meminta ganti kepada Allah. Sungguh di luar dugaan, hanya dalam waktu dua hari setelah kejadian itu, datang saudara dari desa sebelah memberi uang 200.000 rupiah dan beberapa makanan seperti keripik, kuping gajah, dan stik ubi ungu.
Kehilangan cabai yang mungkin nilainya hanya lima ribu rupiah, diganti oleh Allah dengan rezeki yang berlipat ganda! Ini adalah bukti nyata dari firman Allah: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216)
Kisah ini mengajarkan kita beberapa pelajaran penting. Pertama, pentingnya sikap ikhlas dan husnudzon kepada Allah ketika mengalami kehilangan. Kedua, kekuatan doa yang dipanjatkan dengan hati yang ikhlas. Ketiga, Allah Maha Kaya dan bisa mengganti dari arah yang tidak pernah kita duga. Keempat, peran penting suami atau keluarga dalam menasihati dengan cara yang baik ketika ada anggota keluarga yang tertimpa musibah.
Bagaimana Menyikapi Kehilangan dengan Benar?
Agar kehilangan benar-benar menjadi rahmat dan bukan sekadar musibah, ada beberapa hal yang harus dilakukan:
1. Bersabar dan Tidak Mengeluh
Kesabaran bukan berarti diam tidak berbuat apa-apa, tetapi tetap tenang, tidak mengeluh, tidak menyalahkan Allah, dan terus berikhtiar sambil tawakal. Ucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dengan penuh penghayatan.
2. Mengikhlaskan Kehilangan
Ikhlas artinya merelakan apa yang hilang dan meyakini bahwa Allah pasti punya rencana yang lebih baik. Jangan terus-menerus menyesali atau mengingat-ingat kehilangan tersebut.
3. Berdoa dengan Tulus
Gunakan momentum kesusahan untuk berdoa dengan sepenuh hati. Ini adalah saat di mana doa paling mustajab. Mintalah ganti yang lebih baik kepada Allah.
4. Mengambil Hikmah
Renungkan apa pelajaran yang bisa diambil dari kehilangan tersebut. Mungkin Allah ingin mengingatkan kita untuk tidak terlalu cinta dunia, atau mungkin Allah ingin melatih kesabaran kita.
5. Tetap Berikhtiar
Sabar bukan berarti pasif. Tetap lakukan usaha untuk memperbaiki keadaan, sambil tetap tawakal bahwa hasil akhir ada di tangan Allah.
Bagaimana dengan Orang yang Tidak Pernah Kehilangan?
Bagi mereka yang diberi nikmat terus-menerus tanpa mengalami kehilangan berarti, bukan berarti mereka tidak diuji. Justru ujian mereka lebih berat: apakah mereka tetap bisa dekat dengan Allah meski dalam kemudahan?
Yang harus dilakukan oleh orang-orang yang diberi nikmat terus-menerus adalah:
- Bersyukur setiap saat dan tidak menganggap remeh nikmat Allah
- Tetap rajin berdoa meski tidak dalam kesulitan
- Sering-sering bersedekah dan membantu orang yang kesusahan
- Rendah hati dan tidak sombong dengan harta atau kedudukan
- Selalu ingat bahwa semua bisa hilang kapan saja, sehingga tetap bergantung pada Allah
- Memperbanyak ibadah dan amal saleh
Sayangnya, seperti yang telah dijelaskan Al-Quran dan realitas yang kita saksikan, memang jarang orang yang mampu melakukan hal-hal di atas secara konsisten ketika mereka sedang dalam kemudahan. Inilah mengapa ujian dengan nikmat disebut lebih berbahaya.
Kesimpulan
Kehilangan, meski terasa menyakitkan, sejatinya adalah rahmat tersembunyi bagi orang beriman. Ia mendekatkan kita kepada Allah, membuat doa kita lebih mustajab, menghapus dosa-dosa kita, dan melatih kesabaran serta tawakal kita. Banyak orang yang justru menemukan kebahagiaan sejati setelah mengalami kehilangan, karena mereka menjadi lebih dekat dengan Allah.
Sebaliknya, orang yang tidak pernah mengalami kehilangan atau kesusahan berisiko menjadi lupa kepada Allah, sombong, dan jarang berdoa dengan ikhlas. Ujian mereka justru lebih berat karena harus melawan sifat dasar manusia yang cenderung lupa ketika senang.
Maka dari itu, baik kita sedang dalam nikmat maupun dalam musibah, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Nikmat harus disyukuri dengan tetap ingat Allah. Musibah harus disikapi dengan sabar dan ikhlas, sambil meyakini bahwa Allah pasti punya rencana yang lebih baik.
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bersyukur ketika diberi nikmat, dan bersabar ketika diberi ujian. Semoga setiap kehilangan yang kita alami menjadi jalan menuju kedekatan dengan Allah dan pintu datangnya rezeki yang lebih baik. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Komentar
Posting Komentar