Makan Pakai Sendok atau Tangan? Ternyata Ada Dalilnya!
Pernahkah Anda bertanya-tanya, sebenarnya lebih baik makan menggunakan sendok atau langsung dengan tangan? Pertanyaan sederhana ini ternyata memiliki jawaban yang cukup mendalam dalam ajaran Islam. Mari kita bahas bersama.
Pandangan Islam tentang Cara Makan
Dalam Islam, makan dengan tangan sebenarnya lebih dianjurkan karena merupakan sunnah Rasulullah SAW. Beliau sendiri biasa makan menggunakan tangan. Dari Ka'ab bin Malik diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW makan dengan tiga jari dan menjilat jari-jarinya setelah selesai makan.
Namun, ada ketentuan penting: gunakan tangan kanan. Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah di antara kalian ada yang makan dengan tangan kirinya dan jangan pula minum dengan tangan kirinya. Karena setan makan dengan tangan kirinya, dan minum dengan tangan kirinya." (HR Muslim & Tirmidzi)
Adapun penggunaan sendok tetap diperbolehkan dan tidak ada larangan dalam Islam. Terutama untuk makanan berkuah, makanan panas, atau kondisi tertentu yang tidak memungkinkan makan dengan tangan.
Mengapa Tiga Jari Lebih Utama?
Rasulullah SAW biasa makan dengan tiga jari: ibu jari, telunjuk, dan jari tengah. Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar, sunnahnya memang makan dengan tiga jari, meskipun menggunakan lebih dari tiga jari juga dibolehkan.
Hikmah di balik ini dijelaskan oleh Syekh Shalih bin 'Utsaimin: makan dengan tiga jari lebih menunjukkan sikap tidak rakus dan rendah hati. Ketika hanya menggunakan tiga jari, suapan makanan otomatis tidak terlalu besar, sehingga tampak lebih santun dan tidak berlebihan.
Tentu saja, ini fleksibel sesuai jenis makanan. Jika makanannya sulit dimakan dengan tiga jari, menggunakan lebih banyak jari diperbolehkan. Yang terpenting adalah menjaga adab dan tidak berlebihan.
Manfaat Kesehatan Makan dengan Tangan
Selain aspek spiritual, makan dengan tangan ternyata memiliki manfaat kesehatan yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Pertama, ketika tangan menyentuh makanan, tubuh mengirimkan sinyal ke otak untuk melepaskan cairan pencernaan dan enzim. Sistem pencernaan menjadi lebih siap menerima makanan sebelum masuk ke mulut.
Kedua, tangan mengandung bakteri baik yang dapat meningkatkan kekebalan sistem pencernaan. Ini tentu dengan syarat tangan dalam keadaan bersih dan telah dicuci dengan benar.
Ketiga, makan dengan tangan membuat proses makan lebih lambat dan lebih mindful. Hasilnya, otak lebih cepat mengenali sinyal kenyang, sehingga mencegah makan berlebihan.
Kapan Sebaiknya Menggunakan Sendok?
Meskipun makan dengan tangan lebih dianjurkan, ada kondisi di mana menggunakan sendok lebih praktis dan bijaksana:
- Makanan berkuah banyak seperti sup, sayur asem, atau gulai yang sangat cair
- Makanan yang masih sangat panas
- Ketika kuku sedang panjang dan belum sempat dipotong
- Dalam acara formal atau di tempat umum tertentu
Jadi, kuncinya adalah fleksibilitas dan kebijaksanaan dalam menyesuaikan dengan situasi.
Adab-Adab Penting dalam Makan
Menjilat Jari Setelah Makan
Ini adalah sunnah yang kadang terlihat aneh bagi sebagian orang, padahal memiliki hikmah mendalam. Dari Ibnu Abbas diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Jika salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah ia mengusap tangannya sebelum ia menjilatnya atau yang lain yang menjilatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW juga menjelaskan: "Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di manakah letak berkah makanan tersebut."
Hikmah dari menjilat jari meliputi:
- Mendapatkan berkah yang mungkin ada di sisa makanan
- Bentuk syukur atas nikmat Allah
- Menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakannya
- Melatih sikap tidak boros
Bahkan ada urutannya: jari tengah terlebih dahulu, kemudian jari telunjuk, lalu ibu jari. Karena jari tengah paling panjang sehingga biasanya paling banyak sisa makanannya.
Mengambil Makanan yang Jatuh
Ini adalah adab yang sangat penting namun sering diabaikan. Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila makanan salah seorang dari kalian terjatuh, maka ambil dan bersihkanlah kotoran yang terdapat padanya dan kemudian makanlah, dan jangan biarkannya untuk setan." (HR. Muslim)
Jadi jika ada nasi atau makanan yang jatuh, ambil, bersihkan bagian yang kotor, lalu dimakan. Jangan disia-siakan atau dibiarkan begitu saja.
Tidak Menyia-nyiakan Makanan
Islam sangat melarang pemborosan makanan. Dalam Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 26-27 disebutkan bahwa orang yang boros adalah saudara setan.
Namun perlu dipahami: kita tidak harus memaksakan diri menghabiskan makanan sampai kekenyangan. Yang dilarang adalah mengambil makanan berlebihan kemudian menyisakan atau membuangnya. Solusinya sederhana: ambil secukupnya sejak awal.
Ada pengalaman menarik yang sering terjadi: ketika berkunjung ke rumah orang dan diberi porsi sangat banyak, lalu dipaksa menghabiskannya. Dalam kasus seperti ini, yang kurang tepat sebenarnya adalah pemberian porsi yang tidak sesuai kemampuan, bukan orang yang tidak menghabiskan. Sebaiknya dari awal berkomunikasi dengan sopan tentang porsi yang sesuai.
Jangan Makan Sampai Terlalu Kenyang
Rasulullah SAW mengajarkan untuk tidak makan berlebihan:
"Tidak ada wadah yang diisi manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika harus (makan lebih), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya." (HR. Tirmidzi)
Anjuran ini tidak hanya baik secara spiritual, tetapi juga sangat sehat secara medis.
Membaca Doa Sebelum dan Sesudah Makan
Ini adalah adab fundamental yang tidak boleh dilupakan. Dari Umar bin Abi Salamah, Rasulullah SAW bersabda:
"Wahai anakku, jika engkau hendak makan ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang berada di dekatmu."
Membaca bismillah sebelum makan memiliki banyak hikmah: sebagai bentuk mengingat Allah, memohon keberkahan pada makanan, dan melindungi makanan dari gangguan setan. Adapun setelah makan, dianjurkan membaca alhamdulillah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan.
Makan dari Yang Terdekat
Rasulullah SAW mengajarkan untuk makan dari bagian makanan yang terdekat dengan kita, bukan mengambil dari bagian tengah atau bagian orang lain. Ini adalah bentuk adab dan kesopanan, terutama ketika makan bersama.
Hikmahnya adalah agar tidak merusak penampilan makanan, tidak mengambil bagian terbaik untuk diri sendiri, dan menghormati orang lain yang makan bersama. Namun untuk makanan yang bervariasi seperti buah-buahan dalam satu piring, diperbolehkan mengambil dari berbagai tempat.
Tidak Meniup Makanan atau Minuman
Rasulullah SAW melarang meniup makanan atau minuman yang panas. Beliau tidak pernah meniup makanan atau minuman. Jika makanan atau minuman terlalu panas, sebaiknya ditunggu hingga suhunya turun dengan sendirinya atau didinginkan dengan cara lain.
Hikmah dari larangan ini antara lain menjaga kebersihan (napas yang ditiup bisa membawa bakteri), menjaga kesehatan (minuman yang terlalu panas bisa merusak kerongkongan), dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Tidak Mencela Makanan
Dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Jika tidak menyukainya, beliau membiarkannya tanpa mencela.
Ini adalah adab yang sangat penting, terutama ketika kita menjadi tamu atau disajikan makanan oleh orang lain. Mencela makanan bisa menyakiti hati yang menyajikan dan menunjukkan ketidaksyukuran terhadap nikmat Allah. Jika memang tidak cocok dengan selera, cukup tidak dimakan tanpa perlu berkomentar negatif.
Makan Bersama Lebih Utama
Islam sangat menganjurkan untuk makan bersama-sama. Rasulullah SAW bersabda:
"Makanlah bersama-sama dan jangan bercerai-berai, karena keberkahan itu bersama jamaah."
Makan bersama memiliki banyak hikmah: mempererat tali silaturahmi, berbagi rezeki dengan yang lain, saling mendoakan, dan mendapatkan keberkahan yang lebih. Ketika makan bersama, tunggulah hingga semua orang selesai atau izin terlebih dahulu jika ingin meninggalkan tempat lebih dulu.
Nasi dan Kehidupan: Sebuah Perenungan
Ada sebuah pengajaran menarik dari para ustadz: "Nasi itu lebih suka kalau dimakan manusia, jadi apabila ada yang jatuh tapi tidak diambil, dia jadi sedih."
Mungkin terdengar seperti perumpamaan sederhana, tetapi ada makna filosofis yang dalam di dalamnya. Pertanyaan yang muncul: bagaimana nasi bisa memiliki perasaan seperti itu?
Jawabannya ada pada asal-usul nasi itu sendiri. Sebelum menjadi nasi, ia adalah padi. Dan padi adalah tumbuhan—makhluk hidup ciptaan Allah.
Tumbuhan: Makhluk yang Bertasbih
Dalam Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 44, Allah SWT berfirman:
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka."
SubhanAllah. Ayat ini menjelaskan bahwa semua makhluk Allah—termasuk tumbuhan, pohon, dan tanaman—bertasbih kepada-Nya. Kita sebagai manusia hanya tidak memahami bagaimana cara mereka bertasbih.
Ada kisah dari para ulama salaf yang menggambarkan pemahaman ini dengan indah. Imam Abdullah pernah menasihati Imam Ahmad yang memetik daun. Beliau berkata: "Anda memetik daun, berarti anda sudah mengakibatkan dua hal: pertama, mengurangi makhluk yang bertasbih kepada Allah; kedua, menjadi contoh bagi orang lain untuk merusak tanaman."
Jadi ketika para ustadz mengatakan bahwa "nasi lebih suka dimakan manusia," maksudnya adalah pengingat bahwa nasi berasal dari padi—sebuah tumbuhan yang merupakan makhluk hidup bertasbih kepada Allah. Perjalanan panjang dari benih ditanam, tumbuh, dirawat petani selama berbulan-bulan, dipanen, digiling, hingga akhirnya menjadi nasi di piring kita—semua itu memiliki tujuan: untuk dimakan dan memberi manfaat, bukan untuk disia-siakan.
Membuang atau membiarkan nasi terbuang berarti tidak menghargai seluruh proses itu, tidak menghargai jerih payah petani, dan yang terpenting, tidak menghargai makhluk ciptaan Allah yang telah dikorbankan untuk kita.
Kesimpulan dan Refleksi
Dari pembahasan panjang ini, ada beberapa poin penting yang dapat kita ambil:
Pertama, makan dengan tangan (khususnya tiga jari) adalah sunnah yang memiliki manfaat spiritual dan kesehatan. Namun menggunakan sendok tetap diperbolehkan, terutama untuk kondisi dan jenis makanan tertentu.
Kedua, adab makan dalam Islam sangat lengkap dan penuh hikmah: menggunakan tangan kanan, menjilat jari setelah makan, mengambil makanan yang jatuh, dan tidak menyia-nyiakan makanan.
Ketiga, setiap butir nasi yang kita makan memiliki perjalanan panjang dari tumbuhan yang bertasbih kepada Allah. Menghargai makanan berarti menghargai ciptaan Allah dan jerih payah banyak orang.
Yang terpenting dari semua ini adalah niat, kebersihan, dan adab. Baik menggunakan tangan maupun sendok, yang utama adalah melakukannya dengan penuh kesadaran, mengucap bismillah sebelum makan, dan alhamdulillah setelahnya, serta tidak menyia-nyiakan nikmat yang Allah berikan.
Semoga kita semua dapat mengamalkan adab-adab makan yang baik ini dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a'lam bishowab.

Komentar
Posting Komentar